BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Manusia adalah makhluk yang misteri, demikianlah yang
diungkapkan oleh Alexis Carel ketika menggambarkan ketidak tuntasan pencarian
hakikat manusia oleh para ahli. Banyak ikhtiar akademis yang dilakukan oleh
para ahli saat ingin memapar siapa sesungguhnya dirinya. Ilmu-ilmu seperti
filsafat, ekonomi, sosiologi, antropologi juga psikologi dan beberapa ilmu
lainnya adalah ilmu yang membahas tentang manusia dengan perspektif
masing-masing.
Emosi adalah taraf kesanggupan seseorang untuk mengalami
perasaan-perasaan tertentu, luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam
waktu singkat, keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (seperti
kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan,
keberanian yg bersifat subjektif).
Manusia mempunyai keperluan asas yang sama dan
perkembangan mereka bergantung kepada tindak balas terhadap keperluan tersebut.
Pertumbuhan manusia berjalan sesuai prinsip epigenetik yang menyatakan bahwa
kepribadian manusia berjalan menurut delapan tahap. Berkembangnya manusia dari
satu tahap ke tahap berikutnya ditentukan oleh keberhasilannya atau ketidak
berhasilannya dalam menempuh tahap sebelumnya.
B. RUMUSAN MASALAH
Berikut
adalah beberapa rumusan masalah yang telah kami buat :
1.
Apa
pengertian dari emosi?
2.
Bagaimana
perkembangan emosi itu sendiri?
3.
Seperti
apa karakteristik perkembangan emosi itu?
C. TUJUAN PENULISAN
Tujuan
dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.
Mengetahui
pengertian dari emosi.
2.
Mengetahui
perkembangan emosi.
3.
Mengetahui
karakteristik perkembangan emosi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN EMOSI
Rasa dan perasaan adalah salah satu potensi yang khusus dimiliki
oleh manusia. Perbuatan atau perilaku kita sehari-hari pada umumnya disertai
oleh perasaan-perasaan tertentu, seperti perasaan senang dan tidak senang.
Perasaan senang dan tidak senang yang selalu menyertai peerbuatan kita
sehari-hari disebut warna afektif. Warna afektif ini kadang-kadang kuat
kadang-kadang lemah, atau kadang-kadang tidak jelas (samar).
Emosi dan perasaan adalah dua hal yang berbeda. Tetapi perbedaan
antara keduanya tidak dapat dinyatakan dengan tegas. Emosi dan perasaan
merupakan suatu gejala emosional yang secara kualitatif berkelanjutan, akan
tetapi tidak jelas batasannya. Pada suatu saat suatu warna afektif dapat
dikatakan sebagai perasaan, tetapi juga dapat dikatakan sebagai emosi.
Perasaan
menunjukan suasana batin yang lebih tenang dan tertutup karena tidak banyak
melibatkan aspek fisik, sedangkan emosi menggambarkan suasana dinamis dan
terbuka karena melibatkan ekspresi fisik.
Perasaan timbul karena adanya rangsangan dari luar, bersifat
subyektif dan temporer. Ada juga perasaan ysng bersifat menetap menjadi suatu
kebiasaan dan membentuk adat istiadat. Emosi merupakan gejala perasaan yang
disertai dengan perubahan atau perilaku fisik. Seperti marah yang ditunjukan
dengan teriakan suara keras, atau tingkah laku yang lain. Begitu pila
sebaliknya seorang yang gembira akan melonjak-lonjak sambil tertawa lebar, dan
sebagainya.
Berikut
adalah beberapa definisi emosi menurut beberapa ahli:
1.
Crow
& Crow (1958).
“ An emotion,
is affective experience that accimpanies generalized inner adjusment and mental
and physiological stirred-up states in the individual, and that shows it self
in his overt behavior.”
Emosi adalah
penglaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tenteng
keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak.
Emosi adalah warna afektif yang kuat dan ditandai oleh
perubahan-perubahan fisik. Pada saat terjadi emosi sering kali terjadi
perubahan-perubahan pada fisik, antara lain berupa:
1.
Reaksi
elektris pada kulit: meningkat bila terpesona.
2.
Peredaran
darah: bertambah cepat bila marah.
3.
Denyut
jantung: bertambsh cepat bila terkejut.
4.
Pernapasan:
bernapas panjang kalau kecewa.
5.
Pupil
mata: membesar bila marah.
6.
Liur:
mengering kalau takut atau tegang.
7.
Bulu
roma: berdiri kalau takut.
8.
Pencernaan:
mencret-mencret kalau tegang.
9.
Otot:
ketegangan dan ketakutan menyebabakan otot menegang atau bergetar.
10.
Komposisi
darah: komposisi darah akan ikut berubah karena emosional yang menyebabkan
kelenjar-kelenjar lebih aktif.
B. PERKEMBANGAN EMOSI
Kehidupan seseorang pada umumnya penuh dorongan dan minat untuk
mencapai atau memiliki sesuatu. Seberapa banyak minat dan dorongan-dorongan dan
minat-minat seseorang itu terpenuhi merupakan dasar dari pengalaman
emosionalnya. Perjalanan kehidupan tiap-tiap orang tidak selalu sama. Kehidupan
mereka masing-masing berjalan menurut polanya sendiri-sendiri.
Seseorang yang pola kehidupanya berlangsung mulus, di mana
dorongan-dorongan dan keinginan-keinginan atau minatnya dapat terpenuhi atau
dapat berhasil dicapai, ia cenderung memiliki perkembangan emosi yang stabil
dan dengan demikian dapat menikmati hidupnya. Tetapi sebaliknya jika dorongan
dan keinginannya tidak berhasil terpenuhi, baik itu disebabkan kurangnya
kemampuan untuk memenuhinya atau karena kondisi lingkungan yang kurang
menunjang, sangat dimungkinkan perkembangan emosionalnya mengalami gangguan.
Emosi merupakan perpaduan dari beberapa perasaan yang mempunyai
intensitas relatif tinggi dan menimbulkan suatu gejolak suasana batin. Seperti
halnya perasaan, emosi juga membentuk suatu kontinum atau garis yang bergerak
dari emosi positif sampai negatif.
Ada
empat ciri emosi:
1.
Pengalaman
emosional bersifat pribadi/subjektif, ada perbedaan pengalaman antara individu
yang satu dengan lainnya.
2.
Ada
perubahan secara fisik (kalau marah jantung berdetak lebih cepat).
3.
Diekspresikan
dalam perilaku seperti takut, marah, sedih, dan bahagia.
4.
Sebagai
motif, yaitu tenaga yang mendorong seseorang melakukan kegiatan, misalnya orang
yang sedang marah mempunyai tenaga dan dorongan untuk memukul atau merusak
barang.
Meskipun pola perkembangan emosi dapat diramalkan, tetapi terdapat
perbedaan dalam frekuensi, intensitas,
serta jangka waktu dari berbagai macam emosi dan juga saat pemunculannya.
Perbedaan ini sudah mulai terlihat sebelum masa bayi berakhir dan semakin
bertambah frekuensinya serta lebih mencolok sehubungan dengan bertambahnya usia
anak-anak.
Perbedaan itu sebagian disebabkan keadaan fisik anak pada saat itu
dan taraf kemampuan intelektualnya, dan sebagian lagi disebabkan oleh kondisi
lingkungan. Anak yang sehat cenderung kurang emosional dibandingkan dengan anak
yang kurang sehat.
Sejumlah
penelitian tentang emosi anak menunjukan bahwa perkembangan emosi mereka
bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar (Hurlock, 1960: 266).
Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam mempengruhi
perkembangan emosi. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk
memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti , memperhatikan satu rangsangan
dalam jangka waktu yang lebih lama, dan menimbulkan emosi terarah pada satu
objek. Demikian pula kemampuan mengingat mempengaruhi reaksi emosional.
Perkembangan kelenjar endokrtin penting untuk mematangkan perilaku
emosionalmya. Kelenjar adrenalin yang memainkan peran utama pada emosi mengecil
secara tajam segera setelah bayi lahir. Tidak lama kemudiankelenjar itu mulai
membesar lagi, dan membesar dengan pesat sampai anak berusia 5 tahun.
Pembesarannya melambat pada usia 5 sampai 11 tahun. Dan membesar lebih pesat
lagi sampai anak berusia 16 tahun. Pada usia 16 tahun lelenjar tersebut
mencapai kembali ukuran semula seperti anak saat lahir.
Kegiatan belajar juga mampengaruhi perkembangan emosi. Metode
belajar yang menunjang perkembangan emosi, antara lain:
1)
Belajar
dengan mencoba-coba.
Anak belajar
secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang
memberikan pemuasan terbesar kepadanya, dan menolak perilaku yang memberikan
pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan kepuasan. Cara belajar ini
lebih umum digunakan pada masa kanak-kanak awal dibandingkan dengan sesudahnya.
2)
Belajar
dengan cara meniru.
Dengan cara
mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain, anak-anak bereaksi
dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamati.
3)
Belajar
dengan cara mempersamakan diri (learning by identification).
Anak menirukan
reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama dengan
rangsangan yang telah membangkitkan emosi yang telah ditiru. Disini anak hanya
menirukan orang yang dilkagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat
dengannya.
4)
Belajar
melalui pengkondisian.
Dengan metode
ini objek situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional, kemudian
dapat berhasil dengan cara asosiasi. Pengkondisian terjadi dengan mudan dan
cepat pada tahun awal kehidupan. Setelah melewati masa kanak-kanak, pengunaan
metode pengkondisisan semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak
suka.
5)
Pelatihan
atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi.
Anak diajarkan
cara bereaksi yang dapat diterima jika sesuatu emosi terangsang. Dengan
pelatihan anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasanya
membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara
emosional terhadap rangsangan yaang membangkitkan emosi yang tidak
menyenangkan.
Mendekati
berakhirnya usia remaja, seorang anak telah melewati banyak badai emosional, ia
mulai mengalami keadaan emosional yang lebih tenang yang mewarnai pasang surut
kehidupannya. Ia juga telah belajar dalam seni menyembunyikan
perasaan-perasaannya. Hali ini berarti jika ingin memahami remaja, kita tidak
hanya mengamati emosi-emosi yang secara terbuka yang ia tampakkan tetapi perlu
berusaha mengertu emosi yang disembunyikan.
C. KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN EMOSI
Secara tradisional masa
remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, suatu masa di mana
ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar.
Meningginya emosi terutama karena anak (laki-laki atau perempuan) berada di
bawah tekanan sosial dan mereka menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa
kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu.
Tidak demua remaja mengalami masa badai dan tekanan, namun benar juga bila
sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai
konsekuensi usaha penyesuaian diri terhadap pola prilaku baru dan harapan
sosial baru.
Pola emosi masa remaja adlah
sama dengan pola emosi kanak-kanak. Jenis emosi yang secara normal dialami
adalah: cinta/kasih sayang, gembira, marah, takut dan cemas, cemburu, sedih,
dan lain-lain. Remaja sendiri menyadari bahwa aspek-aspek emosional dalam
kehidupan adalah penting (Jersild, 1957: 133). Berikut adalah pembahasan
beberapa kondisi emosional yang dialami oleh remaja:
1. Cinta/ Kasih Sayang
Faktor penting dalam kehidupan masa kanak-kanak
dan remaja adalah kapasitasnya untuk mencintai
orang lain dan kebutuhannya untuk mendapatkan cinta dari orang lain. Kemempuan
untuk menerima cinta sama pentingnya dengan kemampuan untuk memberinya.
Walaupun anak dan remaja banyak bergerak ke
dunia pergaulan yang lebih luas, dalam dirinya masih terdapat sifat
kanak-kanaknya. Remaja membutuhkan kasih sayang di rumah yang sama banyaknya
dengan apa yang mereka alami pada tahun-tahun sebelumnya. Karena alasan inilah
maka sikap menentang mereka, menyalahkan mereka secara langsung, mengolok-olok
mereka karena mencukur kumisnya pada wktu pertama kali, adanya perhatian
terhadap lawan jenisnya merupakan tindakan yang kurang bijaksana.
Tampaknya tidak ada manusia, termasuk remaja,
yang dapat hidup bahagia dan sehat tanpa mendapatkan cinta dari orang lain.
Kebutuhan untuk memberi dan menerima cinta menjadi sangat penting, walaupun
kebutuhan-kebutuhan akan perasaan itu disembunyikan secara rapi. Para remaja
yang berontak secara terang-terangan, nakal, dan mempunyai sikap permusuhan
besar kemungkinannya disebabkan oleh kurangnya rasa cinta dan dicintai yang
tidak disadari.
2. Gembira
Pada umumnya individu dapat mengingat kembali
pengalaman-pengalaman yang menyenangkan yang dialami selama remaja. Jika kita
menghitung hal-hal yang yang
menyanangkan tersebut kita agaknya mempunyai cerita yang panjang dan lengkap
tentang apa yang terjadi dalam perkembangan emosional remaja.
Perasaan gembira dari anak-anak dan remaja
belum banyak diteliti. Perasaan gembira sedikit mendapat perhatian dari petugas
peneliti dari pada perasaan marah dan takut atau tingkah laku problema lain
yang memantulkan kesedihan. Rasa gembira akan dialami apabila segala sesuatunya
berlangsung dengan baik dan para remaja akan mengalami kegembiraan jika ia
diterima sebagai seorang sahabat atau bila ia jatuh cinta dan cintanya itu
mendapat sambutan (diterima) oleh yang dicintai.
3. Kemarahan dan Permusuhan
Sejak masa kanak-kanak, rasa marah telah
dikaitkan dengan usaha remaja untuk mencapai dan memiliki kebebasan sebagai
seorang pribadi yang mandiri. Rasa marah merupakan gejala yang penting diantara
emosi-emosi yang memainkan peranan yang mmenonjol dalam perkembangan
kepribadian.
Kondisi-kondisi dasar yang menyebabkan
timbulnya rasa marah kurang lebih sama, tetapi ada beberapa perbedaan
sehubungan dengan pertambahan umurnya dan kondisi-kondisi tertentu yang
menimbulkan rasa marah atau meningkatnya penguasaan kendali emosional.
Banyaknya hambatan yang menyebabkan anak kehilangan kendali terhadap rasa
marah, sedikit berpengaruh pada kehidupan emosional remaja. Rasa marah tersebut
akan terus berlanjut permunculannya apabila minat-minatnya, rencana-rencanaya,
dan tindakan-tindakanya dirintangi.
Dalam upaya memahami anak dan remaja, ada 4
faktor yang sangat penting sehubungan dengan rasa marah, diantaranya:
1)
Adanya kenyataan bahwa perasaan marah
berhubungan dengan usaha manusia untuk memiliki dirinya dan menjadi diri
sendiri.
2)
Ketika individu mencapai masa remaja, dia tidak
hanya merupakan subjek kemarahan yang berkembang dan kemudian menjadi surut,
tetapi juga mempunyai sikap-sikap kemarahan yang tersisa dalam bentuk
permusuhan yang terjadi di masa lalu. Sikap-sikap permusuhan mungkin berbentuk
dendam, kesedihan, prasangka, atau kecendrungan untuk merasa tersiksa.
3)
Seringkali perasaan marah sengaja disembunyikan
dan seringkali tampak dalam bentuk yang samar-samar.
4)
Kemarahan mungkin berbalik pada dirinya
sendiri. Dalam beberapa hal, aspek ini merupakan aspek yang sangat penting dan
juga paling sulit dipahami.
4. Ketakutan dan Kecemasan
Menjelang anak usia remaja, dia telah mengalami
serangkaian perkembangan panjang yang mempengaruhi pasang surut berkenaan
dengan rasa ketakutannya. Beberapa rasa takut yang terdahulu telah teratasi,
tetapi banyak yang masih tetap ada. Banyak ketakutan-ketakutan baru muncul
karena adanya kecemasan-kecemasan dan rasa berani yang bersamaan dengan
perkembangan remaja itu sendiri.
Semua remaja sedikit banyak takut terhadap
waktu. Beberapa di antara mereka merasa takut hanya pada kejadian-kejadian bila mereka dalam
bahaya. Beberapa orang mengalami rasa takut secara berulang-ulang dengan
kejadian dalam kehidupan sehari-hari, atau mimpi-mimpi, atau karena pikiran
mereka sendiri. Bebrapa orang dapat menglami rasa takut sampai berhari-hari
atau bahkan berminggu-minggu.
Remaja seperti halnya anak-anak dan orang
dewasa, seringkali berusaha untuk mengatasi ketakutan-ketakutan yang timbul
dari persoalan-persoalan kehidupan. Tidak ada seorang pun yang menerjunkan
dirinya dalam kehidupan dapat hidup tnapa rasa takut. Satu-satunya cara untuk
menghindarkan diri dari rasa takut adalah menyerah pada rasa takut, seperti
terjadi bila seseorang begitu takut sehingga ia tidak berani mencapai apa yang
ada sekaran atau masa depan yang tak menentu.
Biehler (1972) membagi ciri-ciri emosional
remaja menjadi dua rentang usia, yaitu usia 12-15 tahun dan usia 15-18 tahun.
Ciri-ciri emosional remaja berusia 12-15 tahun:
1)
Pada usia ini anak cenderung banyak murung dan
tidak dapat diterka. Hal ini akibat dari perubahan perubahan biologis dalam
hubungannya dengan kematangan seksual dan sebagian karena kebingungan dalam
menghadapi apakah ia masih sebagai anak-anak atau sebagai orang dewasa.
2)
Anak mungkin bertingkah laku kasar untuk
menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri.
3)
Ledakan-ledakan kemarahan mungkin bisa terjadi.
Hal ini akibat dari kombinasi ketegangan psikologis, ketidak stabilan biologis,
kelelahan karena bekerja terlalu keras atau pola makan yang tidak tepat atau
tidur yang tidak cukup.
4)
Seorang remaja cenderung tidak toleran terhadap
orang lain dan membenarkan pendapatnya sendiri yang disebabkan oleh kurangnya
rasa percaya diri.
Ciri-ciri emosional remaja
usia 15-18 tahun:
1)
Pemberontakan remaja merupakan
pernyataan-pernyataan atau ekspresi dari perubahan yang universal dari masa
kanak-kanak ke dewasa.
2)
Karena bertambahnya kebebasan mereka, banyak
remaja yang mengalami konflik dengan orang tua mereka. Mereka mungkin
mengharapkan simpati dan nasihat orang tua atau guru.
3)
Siswa pada usia ini seringkali melamun,
memikirkan masa depan meraka.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan makalah di atas
dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan emosi adalah penglaman
afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan
mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak. Pada saat terjadi
emosi sering kali terjadi perubahan-perubahan pada fisik, antara lain berupa:
1.
Reaksi
elektris pada kulit: meningkat bila terpesona.
2.
Peredaran
darah: bertambah cepat bila marah.
3.
Denyut
jantung: bertambsh cepat bila terkejut.
4.
Pernapasan:
bernapas panjang kalau kecewa.
5.
Pupil
mata: membesar bila marah.
6.
Liur:
mengering kalau takut atau tegang.
7.
Bulu
roma: berdiri kalau takut.
8.
Pencernaan:
mencret-mencret kalau tegang.
9.
Otot:
ketegangan dan ketakutan menyebabakan otot menegang atau bergetar.
10.
Komposisi
darah: komposisi darah akan ikut berubah karena emosional yang menyebabkan
kelenjar-kelenjar lebih aktif.
Ada beberapa metode belajar yang
dapat mempengaruhi perkembangan emosi antara lain:
1.
Belajar
dengan coba-coba.
2.
Belajar
dengan cara meniru.
3.
Belajar
dengan cara mempersamakan diri.
4.
Belajar
melalui pengkondisian.
5.
Pelatihan
atau belajar di bawah bimbingan atau pengawasan, terbatas pada aspek reaksi.
Selain itu ada beberapa kondisi
emosional yang dialami oleh remaja, diantaranya adalah:
1.
Cinta/kasih
sayang.
2.
Gembira.
3.
Kemarahan
dan permusuhan.
4.
Ketakutan
dan kecemasan.
DAFTAR PUSTAKA
Sunarto,
Hartono Agung B. 2002. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta
Tim LAPIS. Perkembangan Peserta Didik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar